Seperti yang kita ketahui, bahwa bulan akan berporos pada bumi. Itu yang membuat bulan selalu berganti - ganti bentuk, ada sabit, purnama, dan ada pula yang berbentuk sangat besar , yang biasanya disebut supermoon.
Supermoon adalah sebuah kejadian alam yakni, bulan menjadi sangat besar. Apa penyebabnya ?
Nah, akan dijawab di segmen ini. Supermoon adalah fenomena dimana Bulan pada fase purnama terlihat lebih besar. Biasanya, supermoon akan lebih besar 8 - 16 % dan lebih terang 16 - 30 % sehingga, Bulan akan menjadi bola batu raksasa dilangit pada saat itu. Istilah supermoon didenifisikan sebagai sebuah bulan purnama yang bertepatan dengan orbit bulan terdekat dengan bumi atau perigee. Karena orbit bulan mengelilingi bumi berbentuk telur.Ada saat - saatnya siklus tersebut ketika bulan berada di dekat atu jauh dengan kita. Dan karena ukuran dari orbit bulan sedikit bervariasi dari waktu ke waktu . Setiap bulannya perrige tidak selalu berada pada jarak yang sama dari bumi.
Bulan ini terjadi setiap 152 tahun sekali. Nah, bertepatan dengan itu, pada tanggal 31 Januari 2018 adalah tanggal munculnya kembali supermoon setelah 152 tahun yang lalu. Sebagai santri yang baik, santri akan sholat Gerhana Bulan. Seperti halnya di Pesantren Modern Al Amanah, para santri diwajibkan untuk mengikuti acara tahunan ini. Apalagi dengan adanya supermoon ini, hal yang sangat jarang muncul di publik. Santri akan digiring ke Portal pukul 16.30 wib. Dana akan menunggu munculnya supermoon disertai dzikir bersama dan mau idhotul khasanah. Udah pada tahu belum tata cara sholat gerhana bulan? Jika belum nih aku kasih tahu tata cara nya. Lihat baik - baik gambarnya ya...
Nah, udah pada paham belum ? Sholat ya agar nambah pahala hehehe...
Oh ya, pada tahu belum kenapa warnanya kok merah semerah darah ? Alih-alih berwarna biru, pada puncak gerhana Bulan total terjadi justru ia akan muncul dalam rona kemerahan, yang kadang disebut semerah darah. Tapi, tahukah Anda mengapa gerhana Bulan total justru membuat Bulan tampak merah? Bukankah seharusnya gelap karena cahaya Matahari yang menyinarinya terhalang oleh Bumi kita?
Bumi memang menghalangi Bulan dari Matahari, tapi walaupun cahaya Matahari yang seharusnya menyiari Bulan telah tertutup oleh Bumi saat puncak gerhana total terjadi, ternyata atmosfer Bumi lah yang berperan dalam membiaskan cahaya merah dari Matahari, sehingga Bulan tidak tampak gelap total, melainkan merah.
Jika Bumi tidak memiliki atmosfer, maka saat Bulan berada sepenuhnya di dalam bayangan Bumi saat gerhana total terjadi, Bulan akan tampak gelap dan bahkan mungkin tak terlihat. Namun berkat atmosfer Bumi, kenampakan Bulan pun akan jauh lebih indah.
Atmosfer Bumi sendiri meluas sekitar 80 kilometer di atas permukaan Bumi. Selama gerhana Bulan total, saat Bulan masuk dalam bayangan umbra Bumi, ada lingkaran yang melingkar di sekitar Bumi bila kita melihatnya dari permukaan Bulan, yang tidak lain merupakan cincin atmosfer kita.
- Pada konjugasi ini, kedudukan bulan searah dengan matahari. Pada saat itu bagian bulan yang menghadap ke bumi berwarna gelap atau tidak tampak. Pada aspek konjugasi ini dapat terjadi gerhana matahari karena cahaya matahari yang menuju ke bumi terhalang oleh bulan, sehingga berakibat kita tidak dapat melihat bulan menjadi bercahaya.
- Pada aspek oposisi ini kedudukan bulan berlawanancarah dengan matahari jika dilihat dari bumi. Pada saat aspek oposisi ini bulan akan tampak sebagai bulan purnama, yakni bulat penuh. Pada kedudukan ini bulan terbit pada saat matahari terbenam, dan bulan akan terbenam pada saat matahari sudah terbit.
- Kedudukan bulan yang ketiga adalah kuarter. Pada aspek kuarter ini kedudukan bulan berada tegak lurus terhadap garis penghubung antara bumi dengan matahari. Pada aspek kuarter ini bulan memperlihatkan fase perbani (yakni setengah bulan yang terang). Dalam periode satu bulan, terjadi dua kali kedudukan kuarter pada bulan, yakni kuarter pertama ketika bulan tampak bertambah besar. Dan kuarter kedua ketika bulan tampak mengecil.
Itulah beberapa posisi atau kedudukan bulan yang terjadi selama satu periode revolusi bulan. Masih ada fase- fase bulan lainnya, antara lain adalah fase bulan sabit atau crescent dan juga fase bulan benjol atau gibbous. Demikian dalam satu bulan sinodik, secara berturut- turut terjadi pergantian fase bulan sebagai berikut: bulan baru – bulan sabit – perbani awal – cembung – purnama – cembung – perbani akhir – bulan sabit. Dengan demikian ada lima fase bulan yang terjadi dalam satu periode revolusi bulan atau periode satu bulan, yakni:
- Bulan baru atau new moon
- Bulan sabit pertama atau waxing crescent
- Bulan seperempat pertama atau first quarter
- Bulan purnama atau full moon
- Bulan seperempat ketiga atau third quarter
Nah, udah paham kan sama itu semua, mangkanya belajar dong tentang bulan, biar tahu makna
www. tribunnews